Cetak Ini | Kembali ke Artikel

logo

Pelayanan Revive Israel

©Oktober 29 Pelayanan Revive Israel

Kasih Melibatkan Pengorbanan

Asher Intrater

Kasih adalah nilai yang paling berharga dari kerajaan (1 Korintus 13:13). Ini adalah motivasi utama atas semua perintah-perintah (Markus 12:30-31). Ini adalah karakter dari Tuhan (1 Yohanes 4:8). Ini adalah motivasi dibalik misi hidup dari Yeshua (Yohanes 3:16). Dan ini melibatkan pengorbanan.

Kasih melibatkan sebuah hubungan, yang melibatkan manusia. Semua manusia menyebabkan permasalahan. Kita berdosa. Dosa menyakiti orang lain. Jika kita mengasihi orang, kita harus berurusan dengan rasa sakit yang disebabkan oleh dosa.

Saya memiliki hubungan yang yang indah, penuh kasih, dan setia dengan orang-orang di semua lingkungan hidup saya – pernikahan, keluarga, kerja, jemaat, rekan dan sahabat. Itu semua juga melibatkan rasa sakit. Kesetiaan dan kesabaran berarti menanggung rasa sakit dari hubungan selama jangka waktu yang panjang. Keindahan  kasih sangat berharga melibatkan rasa sakit, namun tidak perlu membayar apapun. Rasa sakit adalah harga dari kasih.

Roma 15:1 – Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat.
I Korintus 12:26 – Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita.
I Korintus 13:7 – Ia menutupi segala sesuatu… menanggung segala sesuatu.
Galatia 6:2 – Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu!
Efesus 4:2 – Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

Rasa sakit atas hubungan kasih datang dari beberapa lingkup. Pertama, kita menanggung beban dengan mereka ketika kita berada dalam hubungan yang lemah. Mereka tidak dapat melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, jadi kita perlu untuk “memperbaiki perbedaan itu”. Disini tidak ada maksud untuk menyakiti sama sekali. Ini lebih merujuk pada beban dibandingkan rasa sakit.

Lingkup kedua yaitu kita merasa mewakili rasa sakit orang lain. Yeshua akan menangis dalam waktu berdoa-Nya (Ibrani 5:7) sebagaimana Ia merasakan penderitaan dari orang lain. Paulus (Sh’aul) berkata bahwa ia merasakan penderitaan para jemaat yang berada pada kewenangannya. Rasa sakit ini adalah rasa sakit spiritual; bukan rasa sakit kita sendiri. Ini adalah identifikasi kasih untuk kasih sayang dan doa.

Lingkup ketiga dari rasa sakit adalah saat seseorang yang saudara kasihi menyakiti saudara. Disini rasa sakit itu lebih bersifat langsung. Kedalaman dari kasih adalah kedekatan. Kedekatan menuntut keterbukaan. Keterbukaan menyebabkan kita mudah terluka. Itu berarti saudara dapat tersakiti atau terluka. Saat kita terluka, kita memiliki karunia dari Yeshua untuk membantu kita memaafkan, melupakan, berkomunikasi dan menerima kesembuhan. Juga, proses tersebut masih menyakitkan.

Yeshua menahan rasa sakit pada saat penyaliban dalam rangka menjaga hubungan dengan kita. Dosa kita dan kasih-Nya menyebabkan rasa sakit. Sayangnya, kita yang menyebabkan rasa sakit Dia sampai saat ini. Ia mengampuni kita di kayu salib. Ia terus mengampuni kita sampai hari ini.

Kolose 3:13-14 – Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih.

Kita dipanggil untuk mengikuti jejak Yeshua. Kita bertindak seperti yang Ia lakukan di atas kayu salib. Sebagaimana Ia mengampuni kita, kita mengampuni orang lain. Ia membayar harga yang harus dibayar untuk terus memiliki hubungan dengan kita. Ia menahan rasa sakit dalam mengasihi kita. Kita menanggung rasa sakit itu dalam rangka mengasihi orang lain. Kita berjalan dengan iman dalam bentuk kasih yang mau berkorban yang dimiliki Yeshua untuk kita.


Who Ate Lunch with Abraham?

Buku terbaru yang sudah ditunggu-tunggu dari Asher, “Who Ate Lunch with Abraham?” baru saja datang (dalam bahasa asli Bahasa Inggris). Buku tersebut menganalisa tampilan Yeshua sebagi Malaikat Tuhan dari Hukum Taurat dan Para Nabi, melalui kitab Wahyu. Buku ini dijamin akan menginspirasi dan menantang pengertian akan tempat yang abadi dari Yeshua Sang Mesias dan pewahyuan yang progresif dari Alkitab secara keseluruhan.

Ide utama dari buku ini dikembangkan bukan hanya dengan pembelajaran bertahun-tahun mengenai tulisan Ibrani, namun juga melalui pengalaman dalam kehidupan nyata dari berbagi Injil dengan Yahudi Ortodoks di Israel. (Belum lagi banyak berdoa dan syafaat.)

 

Jangan lewatkan buku ini. Pesanlah untuk anda sendiri dan juga kirimkan pada para sahabat. Untuk pemesanan, klik (http://www.revive-israel.org/books.php).

Kita memiliki satu kali, potongan khusus untuk penawaran pertama: potongan 10% untuk pemesanan 10 buku; potongan 20% untuk pemesanan 20 buku; potongan 30% untuk pemesanan 30 buku.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai potongan khusus, balaslah ke email ini, atau tulis dan kirimkan pada[email protected].

Akar Yahudi (dari pengantar buku, Who Ate Lunch with Abraham?)

Saya tumbuh dalam lingkungan rumah Yahudi liberal dan menghadiri sinagoga konservatif saat masa muda saya. Di masa saya kuliah, saya menemukan diri saya pada pencarian kebenaran spiritual. Penelitian pribadi saya dan juga pelajaran di psikologi, filsafat dan tulisan-tulisan kuno di Harvard tidak menuntun saya pada apapun yang memuaskan jiwa saya.

Saya mencoba segala jenis pengalaman spiritual dan juga berbagai eksperimen. Satu hal yang saya tidak mau pertimbangkan adalah Yesus. Bagaimanapun, dalam usaha untuk konsisten dalam pencarian saya tentang kebenaran, saya menyadari bahwa saya harus membaca Injil setidaknya satu kali (meskipun saya yakin sebelumnya bahwa tidak ada yang sangat baik di dalamnya).

Pertama kali saya membaca Injil pada tahun 1977, saya terkejut betapa baiknya mereka. Sosok dari Yeshua, hidup-Nya dan pengajaran-Nya, mengilhami kasih dan kekaguman. Sangatlah sulit untuk “tidak jatuh cinta” dengan sosok yang menginspirasi tersebut.

Kedua kalinya saya membaca Injil pada tahun 1978, saya mengalami kejutan yang kedua. Saya menyadari betapa “Yahudi” kitab tersebut. Semua yang ada di dalam kitab adalah Yahudi, termasuk Yeshua sendiri dan juga para murid-murid. Lebih dari itu, seluruh pandangan dunia tentang kerajaan Allah diambil dari  Para Nabi Ibrani.

Oleh karena kejutan pertama, saya mendedikasikan hidup saya untuk menjadi pengikut Yeshua. Oleh karena kejutan kedua, saya menemukan diri saya sebagai bagian dari kelompok yang lebih dikenal dengan “Mesianik Yudaisme.” Pada titik tersebut, saya melanjutkan untuk belajar, bukan hanya mengenai Injil, tetapi juga pada tulisan-tulisan Kristiani dan pada tulisan Para Nabi. (Sebagai bagian dari pembelajaran itu, saya menyelesaikan kedua gelar master saya di awal  1980an, satu untuk Studi Yahudi dari Baltimore Hebrew University, dan satu untuk teologia dari Messiah Biblical Institute.)

Ada banyak isu mengenai akar Yahudi dari Kekristenan. Salah satu yang paling menantang adalah sosok dari Malaikat Tuhan dalam (hukum) Taurat dan Para Nabi. Buku ini diharapkan akan mengatasi isu-isu tersebut.


Kembali ke Artikel 2011


Mari BERDOA untuk pelayanan penginjilan kami di Israel, menumbuhkan jemaat Messianic, pusat latihan pemuridan, pujian nubuatan dan pendoa-pendoa Ibrani, dan bantuan keuangan bagi yang membutuhkan.